Saturday, 30 January 2016

Dunia Semakin Panas

Assalamu'alaikum. Hallo guys! Balik lagi nih di blog gue. Gue benar-benar berterima kasih buat kalian yang masih ngikutin/pantengin blog gue sampai sekarang. Yup, selama kalian masih membaca blog gue. Gue bakalan terus ngeblog. Jangan hilang yak :D
Gue baru aja disuruh guru sekligus wali kelas gue untuk membuat cerpen untuk mading sekolah. Ini sedikit hal baru buat gue, bukan hal baru karena membuat cerpen, tapi hal barunya adalah cerpen yang kali ini bertemakan 'Lingkungan' Sedikit sulit, tapi alhasil gue bisa ngerjakannya. Syukur guru gue bilang cerpennya gak perlu panjang- panjang. Di sini gue bakalan menshare cerpen gue. Happu Reading and Enjoy!




Bel sekolah pun berbunyi menandakan pelajaran Bahasa Indonesia hari ini telah selesai. Mungkin hampir semua murid menantikan bunyinya. Teman- temanku terbiasa memanggilku Vira. Aku sudah terbiasa pulang sekolah berjalan kaki. Entah sejak kapan keringatku terus bercucuran dengan deras. Teriknya matahari membuatku semakin ingin cepat- cepat pulang.
“Assalamu’alaikum, Ma, aku pulang,” ucapku sesampainya di rumah, sambil membuka pintu.“Wa’alaikum salam,” jawab mamaku. Aku pun langsung ke kamarku mengganti baju lalu pergi ke dapur. Mataku langsung tertuju pada sebuah benda berbentuk balok. Bagi orang lain mungkin itu hanyalah kulkas biasa yang berisi air es. Tetapi bagiku itu adalah kotak harta karun yang berisi ribuan emas untuk situasi seperti ini.
            Mama pun datang menghampiriku. “Selesai minum air es, itu muka sejuk banget,” ucap mamaku. “Pasti dong. Oh iya ma, kenapa ya semakin hari dunia ini semakin panas?” tanyaku pada mama. “Mama yakin kamu pasti juga tahukan. Di pinggir jalan jarang sekali ada pepohonan. Gedung- gedung besar biasanya menggunakan bahan kaca. Hal itu menimbulkan efek rumah kaca. Rumah- rumah juga telah banyak yang memakai AC. Kamar kamukan juga memakai AC. Semua itu menyebabkan dunia semakin panas,” ucap mama menjelaskan padaku. “Lantas, mengapa semua itu menyebabkan dunia semakin panas?” tanyaku lagi. “Tentunya itu semua itu menyebabkan dunia semakin panas. Dunia ini semakin sesak dengan manusia tetapi pohon- pohon semakin sedikit. Sedangkan manusia memerlukan oksigen dari pohon tersebut. Hal ini sangat tidak seimbang. Gedung- gedung yang menggunakan bahan kaca menerima cahaya matahari, tetapi cahayanya terperangkap di dalam gedung dan tidak dapat dipantulkan kembali ke alam. Rumah- rumah yang menggunakan AC memang merasakan dingin tetapi alam merasakan panas. Kalau alam semakin panas maka gunung- gunung es akan mencair. Bayangkan saja kalau es di kutub utara mencair, tentunya kita akan tertelan oleh air,” ucap mama yang benar- benar menjelaskan panjang lebar. “Mama benar- benar hebat. Tahu semuanya. Bangga deh sama mama,” ucapku pada mama. “Pastinya dong,” ucap mama dengan bangganya.
            Keesokan harinya ketika sampai di sekolah. Aku melihat Dina yang terlihat bingung memandangi buku di mejanya. “Pagi Din. Perasaanku aja, atau kamu emang lagi kayak orang bingung,” ucapku pada Dina. “Pagi juga Ra. Iya nih aku lagi bingung. Pabrik- pabrik kertas menebang pohon, kemudian mereka menjadikannya kertas. Kertas- kertas itu dijadikan buku. Kemudian sampul buku tersebut bertuliskan ‘Jangan Tebang Pohon dan Sayangi Alam’ bukannya itu sama aja dengan omong kosong?” ucap Dina. “Benar juga sih. Tapi bukannya kita juga membutuhkan semua buku itu? Jika tidak ada kertas, bagai mana nasib kita sebagai pelajar? Lalu dengan apa kita akan mencatat semua yang disampaikan guru. Kita tidak bisa memandangnya dari satu sisi. Mereka melakukannya karena memang kita memerlukannya. Mereka juga tentunya akan melakukan reboisasi setelah menebang pohon,” ucapku pada Dina. Dina pun terdiam dan berkata, “Semua yang kau katakan itu benar. Aku sekarang sadar. Memang seharusnya aku tidak asal menuduh saja. Terima kasih ya Ra udah menyadarkanku.” “Iya Din. Sama-sama,” jawab ku padanya. Tiba-tiba saja Reno datang dengan hebohnya. “Hey Kalian berdua tahu kan lahan lebar di belakang sekolah kita?” tanya Reno. “Tahu dong. Memangnya kenapa?” ucapku. “Kabarnya sih lahan itu akan dijadikan Cafe dan perpustakan terbuka. Free wifi lagi. Keren gak tuh? Kalau enggak salah akan buka minggu depan” ucap Reno. “Kamu serius? Bukannya tempat itu jarang didatangi?” tanyaku padanya. “Ya seriuslah. Kita lihat aja nanti, tempat itu bakalan tetap sepi atau enggak. Aku Cuma pengen ngomongin itu kok. Dah” ucap Reno dan belalu meninggalkan kami.
            Seminggu kemudian cafe dan perpustakaan yang dibilang Reno itu ternyata benar-benar telah dibuka. Padahal aku hanya iseng lewat sini. Tempat itu benar- benar ramai, benar-benar berbeda saat tempat itu belum dibangun. Semua orang sibuk dengan gadged mereka. Mungkin mereka memanfaatkan free wifi yang tersedia disana. “Mungkin jika pohon-pohon menghasilkan wifi, aku yakin mereka akan mulai menanam dan menyayangi pohon. Tapi sayangnya pohon hanya menghasilkan oksigen,” gumamku. Beginilah pikiran manusia saat ini, pikirku lagi.
            Aku benar- benar tak menyangka sebulan setelah kejadian itu daerah kami dilanda hujan deras terus- menerus selama tiga hari. Sekolah kami pun juga libur. Hujan terus menerus menyebabkan daerah kami dilanda banjir besar. Sampah-sampah mengapung dan anak- anak diberikan pelampung. Keadaan disini benar- benar menyedihkan.  Syukur hal itu tidak berlangsung lama. Banjir pun mulai surut secara berangsur. Kami sekeluarga dan semua orang sibuk membersihkan rumah mereka dari sampah sampah yang terbawa arus. Tak lama kemudian kami pun sudah mulai masuk sekolah. Kabar yang kudengar juga bangunan baru belakang sekolah telah digusur karena bangunan itu diduga telah mengurangi daerah resapan air di kota kami. Pemerintah mulai menanami tempat itu dengan bibit- bibit pohon. Pinggir jalan juga telah ditanami bibit pohon. Aku rasa pemerintah dan orang- orang telah sadar setelah ditegur oleh alam.
            Beberapa tahun kemudian, hatiku amat teramat senang. Karena mulai adanya kesadaran orang – orang terhadap lingkungan dan pemandangan hijau di mata benar-benar menyejukkan hati. Semoga ini semua  bukan kebahagiaan sesaat.

Itu dia guys cerpen gue. terima kasih sudah membaca cerpen gue. Like dan Komen kalian sangat dibutuhkan. See you next time guys!

6 comments:

  1. Wah bagus blog yg satu ini apa lg isi nya Lingkungan...Sekali lg Salut deh sama cewek yg buat blog ini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah baca dan makasih juga pujiannya ^^ Pantengen terus yak ^^

      Delete
  2. Bagus nih blog.
    Lebih bagus lagi kalau ngunjungin blog gua..
    grahanapitupulu@yahoo.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. bagus banget, suka sama pembawaan cerita kamu yang ringan. Love it.

    ReplyDelete