Hai guys, welcome back in my blog! Memang sih hari ini bukan jadwalnya buat update. But, gak masalahkan? Gue pengen ngepost cerpen ini. Oke itu Aja. Happy reading. Enjoy!
Seperti biasa jam 7 Aninda telah sampai di
sekolahnya yaitu SMAN 1 Argamakmur. Sekolah yang ia cintai tempat ia menimbah
ilmu. Aninda adalah anak pemilik kedai nasi goreng terenak di Argamakmur.
Tetapi, ketika di sekolah ia tetaplah seorang murid biasa.
“Pagi! Aninda..,” teriak Shinta dari kejahuan.
Aninda menutup mukanya dengan buku yang dipegangnya. Ia malu melihat teman
kecilnya itu selalu meneriakinya.
Lalu Shinta menghampiri Aninda.
“Wah, kamu selalu saja menutupi mukamu saat aku memanggilmu ya, hahaha,” kata
Shinta seperti tanpa bersalah.
“Ehm, kamu ini tak pernah berubah, berhentilah meneriakiku setiap pagi,” kata
Aninda dengan kesal.
Shinta langsung terduduk menutupi mukanya dengan lututnya seperti orang putus
asa.
“Jadi aku begitu menyebalkan ya bagimu,” kata Shinta yang masih menutupi
mukanya dengan lutut.
“Hehm. Baiklah lakukan saja sesukamu,” kata Aninda pasrah.
“Horayy! Gitu dong.. Kamu memang teman baikku,” kata Shinta yang langsung
berubah 180◦
Aninda hanya menggeleng melihat temannya yang selalu bertingkah aneh itu.
Tapi tetap saja ia menyayanginya..
Saat jam istirahat tiba,
Aninda dan Shinta makan di kelas karena mereka membawa bekal.
“Wah, hari ini kamu membawa nasi goreng apa lagi?,” tanya Shinta saat Aninda
membuka bekalnya.
“Ini nasi goreng spesial dengan ayam kecap,” jawab Aninda.
“Aku cicip ya,” kata Shinta.
“Silakan saja,” jawab Aninda.
“Hoeee, masakan buatanmu memang selalu
enak,” kata Shinta dengan semangatnya. Aninda hanya tersenyum.
Mereka menghabiskan bekal yang mereka bawa sampai istirahat selesai.
“Kenyangnya, makan siangku selalu spesial karena selalu ada nasi goreng
buatanmu,” kata Shinta.
“Entah mengapa aku tak pernah bosan
membuatnya bahkan menyantapnya,” kata Aninda.
Keesokan harinya.
“Pagi! Aninda,” teriak Shinta seperti biasanya.
“Pagi juga,” jawab Aninda.
“Eh kamu sudah tahu belum, dengar dengar nih ya, kita bakalan kedatangan murid
baru dari Bengkulu. Kabarnya juga, ia adalah pemilik restaurant sendwich
terbesar di Bengkulu,” Shinta bercerita seperti tukang gosip pada umumnya.
“Oh ya. Aku baru tahu,” kata Aninda dengan santainya.
“Kira- kira ia itu cantik atau tidak ya? Ehm pastinya cantik deh. Iya kan Nin?,”
tanya Shinta bingung.
“Entahlah. Nanti juga kita bakalan tahu,” jawab Aninda.
Kring!Kring! Bel sekolah berbunyi.
Aninda dan Shinta pergi masuk ke kelasnya begitu pula siswa lainnya.
“Perhatian semuanya! Hari ini kita kedatangan murid
baru. Silakan masuk Shera,” kata bu Devi dengan nyaringnya.
Kelas yang sunyi berubah menjadi gaduh melihat Shera berjalan dari luar kelas
dengan anggunnya.
“Shera silakan perkenalkan namamu,” kata bu Devi.
“Hallo! Namaku Shera. Saya pindahan dari SMAN 1 Bengkulu. Saya pinda kesini
karena pekerjaan ayah saya yang harus segera diselesaikan di kota ini. Saya
harap bisa berteman dengan kalian. Sebagai ucapan selamat datang, saya akan
membawakan makanan khas restaurant saya,” kata Shera memperkenalkan dirinya.
Kemudian beberapa pelayan masuk ke kelas mereka dan
menyediakan sendwich di setiap meja siswa.
“Silakan dinikmati!,” kata Shera.
Semua siswa di kelas tersebut terlihat gembira begitupun guru mereka bu Devi.
Lalu tiba Shera berjalan menghampiri Aninda.
“Hey, lihatlah ia menghampirimu” bisik Shinta pada Aninda. Aninda terdiam.
“ Hai, kamu anak pemilik kedai nasi goreng yang terkenal itu kan?,” kata Shera.
“Ya, ada perlu kamu denganku?,” tanya Aninda. Shera tersenyum.
“Datanglah ke rumahku sore ini, aku sudah menyiapkan semuanya untuk menyambut
kedatanganmu,” kata Shera memberikan sebuah alamat lalu pergi dari hadapan
Aninda dengan anggunnya.
Cukup lama mereka semua dikelas menikmati hidangan yang diberikan Shera.
Setelah semuanya selesai, para pelayan kembali membereskan semua sisa hidangan.
Saat pulang sekolah tiba, sebelum Shera memasuki mobilnya, ia melihat Aninda
lalu berkata.
“Aku menunggumu sore ini, jam 3 supir ku akan menjeputmu,” kata Shera lalu
memasuki mobilnya tanpa menunggu jawaban Aninda
Sore ini Aninda bersiap- siap untuk pergi lalu
menunggu seseorang yang akan menjemputnya. Tak lama kemudian sebuah mobil
berhenti dihadapannya dan mempersilahkannya masuk. Aninda masuk ke dalam mobil
tersebut.
Saat tibanya di tujuan, Aninda terkejut melihat
rumah yang sangat megah. Lalu ia berjalan masuk dan beberapa pelayan
mempersilahkan ia duduk di sebuah meja bundar. Tak lama kemudian seorang wanita
cantik keluar dengan baju gaunnya. Ia adalah Shera. Shera duduk di hadapan
Aninda.
Merekapun berbincang- bincang sambil menyantap hidangan di meja tersebut. Tiba-
tiba saja Shera menyampaikan tujuannya mengundang Aninda ke rumahnya.
“Langsung saja, saya mengundangmu kesini untuk menawarkan penawaran spesial
padamu. Jual saja kedaimu pada keluargaku. Aku akan membayar seberapa uang yang
kau minta. Aku juga akan memberikan lahan untuk kedaimu nanti di Bengkulu.
Pokoknya aku harus mendapatkan lokasi itu,” kata Shera dengan tegasnya.
“Tidak! Aku tidak akan pernah memberikan kedai itu padamu,” kata Aninda dengan tegasnya lalu pergi
meninggalkan meja itu.
“Untuk apa kau menyianyiakan penawaran spesial ini. Kau juga masih bisa membuka
kedai di Bengkulu,” kata Shera. Kata- kata itu membuat langkah Aninda terhenti.
Shera tersenyum sinis.
“Aku bilang aku tidak akan menjual kedai itu. Jika itu yang kau mau, aku
menantangmu untuk lomba masakan. Salah satu dari kita harus menjual masakan
kita dengan cepat. Jika masakanku terjual lebih cepat maka kau harus berhenti
menawarkan tawaranmu itu. Jika sebaliknya, aku akan menjual kedaiku,” kata
Aninda dengan tegasnya.
“Baiklah,” jawab Shera.
“Lokasinya di Alun- Alun Rajo Malin Paduko. Waktunya 3 hari lagi saat makan
siang,” kata Aninda meninggalkan tempat tersebut.
Beberapa hari kemudian,
Shinta datang ke kedai Aninda. Ia melihat Aninda terpuruk dihadapan bahan bahan
nasi goreng.
“Beberapa hari ini kau kelihatan murung. Ada apakah gerangan?,” tanya Shinta.
“Aku tak tahu apa yang harus aku buat,” kata Aninda.
“Bagaimana kau tidak tahu? Kau adalah juru masak terhebat bagiku,” kata Shinta.
“Memang masakan yang kubuat selalu enak. Tetapi itu saja tidak cukup. Aku tidak
bisa membuat nasi goreng seperti biasanya.jika itu saja, aku akan kalah.
Sendwich buatan shera bisa saja menang karena sendwich bisa diisi dengan apa
saja dan orang Argamakmur suka sesuatu hal yang baru,” kata Aninda.
“Sudahlah tak perlu murung. Aku membawakanmu makanan buatan kakakku,” kata
Shinta memberi semangat pada Aninda.
Shinta membawakan onigiri buatan kakaknya. Onigiri adalah masakan yang biasa
dibuat oleh orang jepang, nasi kepal yang dibuat segitiga lalu dilapisii oleh
nori(rumut laut kering).
“ Wah ini memang benar benar enak,” kata Aninda sambil menyantap onigiri
tersebut.
lalu ia terdiam melihat onigri tersebut. Lalu timbul ide didalam pikirannya.
Ia langsung bergegas membuat nasi goreng spesial seperti biasa. Lalu ia
membentuk nasi goreng tersebut berbentuk onigiri.
Lalu ia menyediakannya pada Shinta.
“Cicipilah!,” Kata Aninda.
“Wah onigiri nasi goreng. Selamat makan,” kata
Shinta.
“Wah ini benar benar enak. Kau memang hebat. Bagaimana bisa terpikir olehmu?,”
tanya Shinta.
“Nasi goreng memang biasa tetapi jika disajikan dalam bentuk yang berbeda maka
akan lebih menarik, terima kasih ya sudah memberikanku ide,” kata Aninda.
“iya sama –sama,” kata Shinta.
Tibalah hari dimana lomba itu dilaksanakan.
Aninda dan Shera telah tiba di lokasi.
“Mari kita bersaing secara sehat disini,” kata Shera.
“Ya, aku tidak akan kalah,” kata Aninda.
“Aku pun begitu,” kata Shera.
“Baiklah hari ini kita akan mengadakan perlombaan
Aninda vs Shera, kalian disinilah yang menentukan siapa pemenangnya. Tidak
berlama lama lagi acara kita mulai!,” kata pembawa acara lomba tersebut yang
disera oleh Shera.
Aninda dan Shera mulai membuat masakan mereka dan
menyusunnya didalam kotak bekal.
Mereka bersaing secara sehat.
Beberapa orang telah membelinya dan memakan bekal tersebut di meja yg telah
disiapkan pelanggan.
“Wah ini aku belum pernah memakan nasi goreng dengan bentuk onigiri,”
“Aku juga, terlebih lagi nasi gorengnya benar- benar enak,”
Disisi lain,
“Sendwich benar benar enak, ini bisa diisi dengan bahan apa saja,”
“Betul, ada yang berisi sayur, daging, dan juga buah,”
Awalnya banyak pelanggan yang membeli sendwich.
Tetapi pada akhirnya, nasi goreng buatan Aninda lah yang banyak terjual habis.
“Baiklah, sepertinya kita sudah tahu siapakah
pemenang perlombaan hari ini, yaitu, Nasi
Goreng buatan Aninda,” kata pembawa acara tersebut
Akhirnya Aninda dinyatakan sebagai pemenang.
“Aku mengakui kekalahanku. Aku ucapkan selamat,” kata Shera.
“Iya sama-sama,” jawab Aninda.
“Tetapi bagaimana kau bisa menang melawan sendwichku?,” tanya Shera.
“Orang Indonesia biasanya menyukai sesuatu hal yang baru, makanya kubuat
onigiri. Serta orang Indonesia biasanya memakan nasi bukan roti,” Aninda
menjelaskan alasannya.
“Oh begitu. Bisa- bisanya aku melupakannya,” kata Shera
“Jadi sesuai perjanjian kau tidak akan menawarkan penawaran itu lagi padaku,”
kata Aninda
“Ya, aku akan kembali ke Bengkulu,” kata Shera.
“Bukankah kau baru saja pindah kesini? Bersenang senanglah dulu di kota ini,”
kata Aninda.
“ Tidak bisa. Tugasku disini sudah selesai. Aku harus kembali,” kata Shera.
“Baiklah kalau begitu,” kata Aninda
“Semoga kita berjumpa lagi,” kata Shera.
~selesai~